JIHAD DAN SEMANGAT KEHIDUPAN PERSPEKTIF KHOMEINI
Moh Kholil Ketua BPD Desa Tobai Barat Sokobanah Sampang, Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya (UBAYA)
Di mata dunia Barat, nama
Ayatollah Ruhollah Khomeini kerap dibayangi stigma sosok ulama revolusioner,
pemimpin Iran yang keras terhadap Barat, dan simbol Islam politik yang militan.
Namun di balik itu, Khomeini menyimpan satu sisi penting yang jarang dibahas ia
adalah pemikir yang melihat jihad bukan semata perang, tapi sebagai semangat
hidup. Dalam dirinya, jihad bukan penghancur, melainkan pembangun jiwa dan
bangsa.
Ketika Khomeini memimpin
Revolusi Islam Iran tahun 1979, ia tidak hanya menggerakkan rakyat untuk
menggulingkan Shah Reza Pahlavi. Ia menghidupkan kembali keyakinan bahwa umat
Islam berhak hidup bebas, merdeka, dan bermartabat. Bagi Khomeini, jihad adalah
bentuk tertinggi dari pengorbanan untuk menegakkan kebenaran baik melawan
tirani luar, maupun nafsu dan kebodohan dari dalam diri sendiri.
Dalam salah satu
pidatonya, Khomeini menegaskan bahwa “jihad akbar adalah jihad melawan hawa
nafsu.” Ia menolak pemaknaan sempit bahwa jihad hanya identik dengan senjata.
Sebaliknya, ia menempatkan jihad sebagai fondasi semangat kehidupan, yaitu
perjuangan tanpa henti untuk memperbaiki diri, masyarakat, dan sistem yang
berlaku. Inilah mengapa setelah revolusi berhasil, ia tetap mendorong rakyat
untuk membangun bangsa, mendidik generasi, dan menegakkan keadilan sosial.
Khomeini sadar, semangat
revolusi bisa mati jika rakyat kehilangan cita-cita hidup. Maka, jihad harus
terus dihidupkan dalam bentuk baru, jihad melawan kemiskinan, ketimpangan, dan
ketergantungan pada kekuatan asing. Semangat ini terasa relevan, bahkan hingga
hari ini. Dunia Muslim masih berkutat dalam bayang-bayang konflik,
disinformasi, dan krisis identitas. Tapi ajaran Khomeini mengingatkan kita jika
jihad sejati adalah tentang membangkitkan kehidupan, bukan mematikan harapan.
Kini, lebih dari empat
dekade sejak revolusi Iran, dunia boleh setuju atau tidak dengan kebijakan
politik yang dijalankan atas nama Khomeini. Tapi satu hal tak bisa disangkal ia
telah menulis ulang makna jihad dalam tinta semangat dan keteguhan hidup.
Sebuah jihad yang bukan hanya soal medan perang, tetapi medan kehidupan.
Akhir-akhir ini konflik antara
Iran dan Israel menghebohkan Masyarakat Global, apalagi adanya pernyataan
ancaman pembunuhan secara jelas oleh perdana mentri israel “Benyamin Netanyahu”
begitupun pernyataan ancaman dari Presiden Amerikat yang sekarang “Donal Jhon
Trump”, yang membuat Masyarakat dunia ketr ketir dan penuh ke khawatiran akan
terjadinya perang dunia ke tiga dalam waktu dekat, namun Saya lebih focus pada
diri khomaini sendiri secara personal, saya tidak khawatir tentang kematian atau kesyahidan
Ayatollah Ali. Itu pasti terjadi. Cepat atau lambat. Ia sendiri menyiapkannya
seperti seseorang menyiapkan tempat tidur untuk tidur yang lama. Ia tidak
takut. Karena ia berharap. Seperti Husein di Karbala yang syahidnya merupakan
sebuah takdir yang ia pilih.
Tapi, yang lebih
menakjubkan bukan darah yang akan tumpah, melainkan apa yang dilakukan sebelum
darah itu tumpah. Di bawah embargo, di bawah bayang-bayang perang, dipimpin
Ayatollah Ali, Iran tetap membangun laboratorium ilmu. Mereka menulis puisi,
membaca filsafat, dan menyusun ulang semesta pengetahuan seperti para arsitek
yang tahu bahwa rumahnya akan dibom tapi tetap mereka bangun dengan cinta dan
kalkulasi yang cermat.
Di Iran, mereka mendekap
dunia tanpa kehilangan akhirat. Sedang kita, seringkali, berteriak
"Takbir!" sebagai pelarian dari kenyataan. Berteriak
"Syahid!" sebagai bentuk frustrasi atas dunia yang tak kita kuasai.
Barangkali, kita lebih
menyukai mati dalam semangat daripada hidup dengan tanggung jawab. tapi
Ayatollah Ali menunjukkan, syahid bukanlah pelarian, melainkan puncak dari
perjalanan panjang: penuh riset, perhitungan, dan keberanian untuk tetap
berpikir di tengah badai propaganda.
Di Iran, semangat syahid
tidak menghindarkan mereka dari sains. Ia justru mendorongnya. Kita menyebut
mereka militan. Tapi barangkali mereka hanya lebih waras, dalam dunia yang
terlalu cepat menyerah.

Komentar
Posting Komentar