PENDIIKAN PERSPEKTIF LELUHUR BANGSA
Moh Kholil, Waka Kurikulum LPI Miftahul Ulum 2 Tobai Barat Sokobanah Sampang.
Di tengah gempuran era digital dan modernisasi global, bangsa Indonesia tak boleh melupakan akar budayanya terutama dalam hal pendidikan. Jika hari ini pendidikan kerap diukur lewat standar internasional, nilai akademik, atau peringkat sekolah, maka para leluhur bangsa justru menempatkan pendidikan sebagai jalan untuk membentuk manusia seutuhnya: berilmu, berbudi, dan berakar pada tanah airnya.
Dalam perspektif leluhur, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan laku hidup yang membentuk karakter, kearifan, dan kesadaran akan harmoni dengan sesama dan alam. Di berbagai penjuru Nusantara, kita dapat menemukan jejak pendidikan berbasis nilai, bukan sekadar angka. Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional, menanamkan filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” sebagai panduan mendidik yang tetap relevan hingga kini.
Para leluhur kita meyakini bahwa pendidikan sejati dimulai dari keluarga, diperkuat oleh masyarakat, dan disempurnakan oleh pengalaman. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca atau berhitung, tetapi juga bagaimana menjaga alam, menghormati orang tua, hidup bergotong-royong, serta menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab.
Di Bali, misalnya, pendidikan tradisional sarat dengan nilai-nilai spiritual dan etika yang ditanamkan sejak dini melalui upacara dan cerita rakyat. Di tanah Minangkabau, sistem surau menjadi tempat pendidikan karakter dan kepemimpinan bagi para pemuda. Sementara di Papua, nilai-nilai solidaritas dan penghormatan terhadap alam diajarkan melalui praktik adat yang diwariskan turun-temurun.
Pertanyaannya kini: di mana posisi nilai-nilai luhur tersebut dalam sistem pendidikan kita saat ini?
Ironisnya, sistem pendidikan modern kerap terjebak dalam kompetisi dan tekanan ujian. Murid dituntut cerdas secara kognitif, namun seringkali abai terhadap pembentukan karakter. Pendidikan menjadi rutinitas formal yang jauh dari makna asli yang diwariskan leluhur
membentuk manusia yang utuh, merdeka dalam berpikir, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Sudah saatnya kita menengok kembali warisan leluhur dalam membangun paradigma pendidikan yang membumi. Pendidikan berbasis nilai dan kearifan lokal tak berarti mundur, melainkan landasan kuat untuk melangkah maju. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak kehilangan jati dirinya dalam derasnya arus zaman.
Maka dari itu, reformasi pendidikan sejatinya bukan sekadar mengganti kurikulum atau memperbarui teknologi, tapi menyentuh inti terdalam bagaimana kita mendidik manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak dan berkarakter, sebagaimana dicita-citakan para leluhur bangsa.

Komentar
Posting Komentar